muslim. Sayangnya, cita-cita yang mudah untuk digapai ini, sangat sulit
diwujudkan. Hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat
merealisasikannya. Sedangkan, sebagian besar kita, seolah terlena dengan
hiruk pikuknya aktivitas dunia. Tidak berbeda antara yang kaya dan yang
miskin. Kesederhanaan seolah permata yang hilang di tengah padang pasir
sahara.
Hidup sederhana atau bersahaja adalah sebuah pilihan. Sebab, Rasulullah
SAW telah menjalaninya. Dan seharusnya kita melakukanya, bila menginginkan
menjadi pengikutnya. Hidup bersahaja bukanlah hidup dalam serba
kekurangan. Bukan pula hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Sederhana
adalah hidup di tengah-tengah, tidak berlebihan. Hidup bersahaja tidak
identik dengan kemiskinan. Tetapi bisa jadi dalam gelimang harta kekayaan.
Di sana ada sifat qanaah yang selalu berlaku adil dan bersyukur atas
setiap rezeki yang diberikan allah. Di sana pula ada sikap zuhud yang
menempatkan harta kekayaan di tangan bukan di hati. Tidak risau bila suatu
waktu sang pemilik yang sebenarnya mengambilnya.
Hidup sederhana menurut Dr. Hidayat Nur Wahid, adalah hidup yang istiqamah
mengikuti ajaran Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia tergambarkan dengan
jelas dalam perilaku sehari-hari. Orang-orang yang sederhana hidupnya
tidak berlebih-lebihan atau bermubadzir-mubadziran. Mereka juga tidak
kikir, tidak bakhil, berperilaku moderat, berperilaku propfesional.
Kesederhanaan tidak identik dengan sikap hidup yang malas dan negatif.
Bukan pula sikap hidup yang membawa kemelaratan, kefakiran, atau kepapaan.
Kesederhanaan justeru identik dengan sikap hidup yang terus berikhtiar
mencari rezeki yang terbaik hingga kita bisa berinfak dan berzakat. Dengan
berinfak atau berzakat sebagai ungkapan rasa syukur, Allah akan
melipatgandakan rezeki kita. Harta atau rezeki yang dilipatgandakan itu
nantinya akan dipergunakan kembali sebanyak-banyaknya untuk infak, zakat,
dan membantu sesama.
Sikap hidup sederhana yang dilandasi dengan keimanan akan menjauhkan dari
penyimpangan-penyimpangan, termasuk penyimpangan ekonomi yang menjadi akar
timbulnya korupsi. Orang yang sederhana akan terlihat dalam pakaiannya.
Walaupun mampu membeli pakaian yang harganya jutaan rupiah, ia tidak
melakukannya. Ia hanya memakai pakaian yang sesuai dengan standar di masyarakat.
Hidup sederhana adalah hidup dalam proporsionalitas. Maksudnya sikap hidup
yang pertengahan, tidak berlebihan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Orang
yang sederhana akan mengukur sikap dan perilakunya secara proporsional.
Ini tercermin dalam pembicaraannya, dalam ibadahnya, dan dalam sikap hidup lainnya.
Proposionalitas berkaitan dengan kondisi masing-masing setiap orang.
Misalnya seseorang pebisnis yang sukses, menjadi kaya raya, akan sangat
berbeda implementasinya dengan orang yang tidak sukses dalam bisnisnya.
Seorang pebisnis yang sukses tentu akan menggunakan pakaian, mobil, atau
fasilitas hidup lainnya yang lebih mahal saat ia menggunakannya untuk
bergaul dengan rekan bisnisnya. Tetapi pada saat bergaul dengan
masyarakat, ia menyesuaikanya dengan kondisi masyarakat. Ia tidak
memamerkan kekayaannya. Ia tampil bersahaja tanpa meremehkan orang-orang
yang kurang mampu di lingkungan sekitarnya.
Perbedaan implementasi hidup sederhana antara si kaya dan si miskin
tidaklah menjadi masalah manakala semuanya dibingkai dengan sikap qanaah
dan zuhud terhadap semua rezeki yang dianugerahkan allah kepadanya.
** Menyiasati Keinginan dan Kebutuhan
Hidup sederhana adalah seni dalam menjalani kehidupan. Realisasinya bisa
mudah dan sulit tergantung kita dalam menikmati seni itu. Bagi seorang
muslim, keberhasilannya bisa dengan mudah tercapai berbanding lurus dengan
tingkat keimanannya. Makin kokoh imannya terhadap hari akhir dan hari
pembalasan, akan makin mudah baginya dalam mengendalikan nafsu serakahnya.
Semakin terampil dalam mengendalikan nafsu duniawinya, semakin mudah
baginya dalam merealisasikannya.
Sebaliknya, semakin lemah imanya, akan semakin sulit dalam mengendalikan
nafsu serakahnya. Bila iman makin menipis, akan sangat mudah syetan
menggelincirkan kehidupannya. Yang dituruti adalah keinginan yang tidak
pernah terputus. Kepuasan akan terjadi jika nafsunya serakahnya sudah
terpenuhi. Tak peduli cara yang digunakannya apakah benar atau salah.
Karenanya, kita harus dapat menyiasati setiap keinginan yang timbul apakah
sesuatu yang dibutuhkan atau tidak. Bila tidak mampu mengendalikan
keinginan selamanya kita akan menjadi makhluk yang diperbudak keinginan.
Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Kebutuhan bila tidak dipenuhi akan
berdampak negatif bagi kita. Sedangkan, keinginan bila tidak dipenuhi
belum tentu membawa dampak negatif. Memiliki keinginan adalah sesuatu yang
wajar dan bukanlah masalah. Yang mennjadi masalah adalah manakala kita
diperbudak keinginan. Orientasi hidup kita menjadi tertuju hanya kepada
keinginan tersebut. Ujung-ujungnya kita akan menjadi orang yang boros.
Bisa jadi kebutuhan yang prioritas akan kehabisan anggaran karena dananya
terambil oleh kebutuhan yang tidak terlalu penting akibat terlalu menuruti
keinginan.
Menjadi muslim yang sederhana akan sulit diwujudkan bila kita tidak dapat
menyiasati setiap keinginan. Oleh karena itu, sudah tugas kita untuk
mengendalikan setiap keinginan agar hidup sederhana dapat terealisasi
dalam hidup kita. [Swadaya-30]
diwujudkan. Hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat
merealisasikannya. Sedangkan, sebagian besar kita, seolah terlena dengan
hiruk pikuknya aktivitas dunia. Tidak berbeda antara yang kaya dan yang
miskin. Kesederhanaan seolah permata yang hilang di tengah padang pasir
sahara.
Hidup sederhana atau bersahaja adalah sebuah pilihan. Sebab, Rasulullah
SAW telah menjalaninya. Dan seharusnya kita melakukanya, bila menginginkan
menjadi pengikutnya. Hidup bersahaja bukanlah hidup dalam serba
kekurangan. Bukan pula hidup dalam kemelaratan dan kesengsaraan. Sederhana
adalah hidup di tengah-tengah, tidak berlebihan. Hidup bersahaja tidak
identik dengan kemiskinan. Tetapi bisa jadi dalam gelimang harta kekayaan.
Di sana ada sifat qanaah yang selalu berlaku adil dan bersyukur atas
setiap rezeki yang diberikan allah. Di sana pula ada sikap zuhud yang
menempatkan harta kekayaan di tangan bukan di hati. Tidak risau bila suatu
waktu sang pemilik yang sebenarnya mengambilnya.
Hidup sederhana menurut Dr. Hidayat Nur Wahid, adalah hidup yang istiqamah
mengikuti ajaran Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Ia tergambarkan dengan
jelas dalam perilaku sehari-hari. Orang-orang yang sederhana hidupnya
tidak berlebih-lebihan atau bermubadzir-mubadziran. Mereka juga tidak
kikir, tidak bakhil, berperilaku moderat, berperilaku propfesional.
Kesederhanaan tidak identik dengan sikap hidup yang malas dan negatif.
Bukan pula sikap hidup yang membawa kemelaratan, kefakiran, atau kepapaan.
Kesederhanaan justeru identik dengan sikap hidup yang terus berikhtiar
mencari rezeki yang terbaik hingga kita bisa berinfak dan berzakat. Dengan
berinfak atau berzakat sebagai ungkapan rasa syukur, Allah akan
melipatgandakan rezeki kita. Harta atau rezeki yang dilipatgandakan itu
nantinya akan dipergunakan kembali sebanyak-banyaknya untuk infak, zakat,
dan membantu sesama.
Sikap hidup sederhana yang dilandasi dengan keimanan akan menjauhkan dari
penyimpangan-penyimpangan, termasuk penyimpangan ekonomi yang menjadi akar
timbulnya korupsi. Orang yang sederhana akan terlihat dalam pakaiannya.
Walaupun mampu membeli pakaian yang harganya jutaan rupiah, ia tidak
melakukannya. Ia hanya memakai pakaian yang sesuai dengan standar di masyarakat.
Hidup sederhana adalah hidup dalam proporsionalitas. Maksudnya sikap hidup
yang pertengahan, tidak berlebihan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Orang
yang sederhana akan mengukur sikap dan perilakunya secara proporsional.
Ini tercermin dalam pembicaraannya, dalam ibadahnya, dan dalam sikap hidup lainnya.
Proposionalitas berkaitan dengan kondisi masing-masing setiap orang.
Misalnya seseorang pebisnis yang sukses, menjadi kaya raya, akan sangat
berbeda implementasinya dengan orang yang tidak sukses dalam bisnisnya.
Seorang pebisnis yang sukses tentu akan menggunakan pakaian, mobil, atau
fasilitas hidup lainnya yang lebih mahal saat ia menggunakannya untuk
bergaul dengan rekan bisnisnya. Tetapi pada saat bergaul dengan
masyarakat, ia menyesuaikanya dengan kondisi masyarakat. Ia tidak
memamerkan kekayaannya. Ia tampil bersahaja tanpa meremehkan orang-orang
yang kurang mampu di lingkungan sekitarnya.
Perbedaan implementasi hidup sederhana antara si kaya dan si miskin
tidaklah menjadi masalah manakala semuanya dibingkai dengan sikap qanaah
dan zuhud terhadap semua rezeki yang dianugerahkan allah kepadanya.
** Menyiasati Keinginan dan Kebutuhan
Hidup sederhana adalah seni dalam menjalani kehidupan. Realisasinya bisa
mudah dan sulit tergantung kita dalam menikmati seni itu. Bagi seorang
muslim, keberhasilannya bisa dengan mudah tercapai berbanding lurus dengan
tingkat keimanannya. Makin kokoh imannya terhadap hari akhir dan hari
pembalasan, akan makin mudah baginya dalam mengendalikan nafsu serakahnya.
Semakin terampil dalam mengendalikan nafsu duniawinya, semakin mudah
baginya dalam merealisasikannya.
Sebaliknya, semakin lemah imanya, akan semakin sulit dalam mengendalikan
nafsu serakahnya. Bila iman makin menipis, akan sangat mudah syetan
menggelincirkan kehidupannya. Yang dituruti adalah keinginan yang tidak
pernah terputus. Kepuasan akan terjadi jika nafsunya serakahnya sudah
terpenuhi. Tak peduli cara yang digunakannya apakah benar atau salah.
Karenanya, kita harus dapat menyiasati setiap keinginan yang timbul apakah
sesuatu yang dibutuhkan atau tidak. Bila tidak mampu mengendalikan
keinginan selamanya kita akan menjadi makhluk yang diperbudak keinginan.
Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Kebutuhan bila tidak dipenuhi akan
berdampak negatif bagi kita. Sedangkan, keinginan bila tidak dipenuhi
belum tentu membawa dampak negatif. Memiliki keinginan adalah sesuatu yang
wajar dan bukanlah masalah. Yang mennjadi masalah adalah manakala kita
diperbudak keinginan. Orientasi hidup kita menjadi tertuju hanya kepada
keinginan tersebut. Ujung-ujungnya kita akan menjadi orang yang boros.
Bisa jadi kebutuhan yang prioritas akan kehabisan anggaran karena dananya
terambil oleh kebutuhan yang tidak terlalu penting akibat terlalu menuruti
keinginan.
Menjadi muslim yang sederhana akan sulit diwujudkan bila kita tidak dapat
menyiasati setiap keinginan. Oleh karena itu, sudah tugas kita untuk
mengendalikan setiap keinginan agar hidup sederhana dapat terealisasi
dalam hidup kita. [Swadaya-30]
posted by imot at 6:50 PM
| Permalink |


