Enam bulan berikutnya istri hamil lagi, kali ini tentu bahagia banget. Yayasan Bumi Sehat yang ada di ubud dan satu-satunya tempat melahirkan di air waktu itu jadi incaran kami. Hampir tiap bulan kami pulang pergi Denpasar-Ubud. Kalo gak salah info metode ini dah ada sejak tahun 1960 dari pemikiran seorang Igor Charkovsky peneliti Rusia. Kemudian metode ini dibuatkan protocol medisnya tahun 1991 di Rumah Sakit Monadnock Community,
Singkat cerita proses persalinan istri yang pertama ini gagal dilaksanakan di air karena “Partus Cepat”. Setelah istri diperiksa dalam oleh bidannya istri pamit ke toilet untuk (maaf) pipis kok malah lahir di closet duduk. Bidannya kalang kabut.
17 bulan kemudian istri melahirkan putri kami yang ke 2, namanya Ghaitsa Nagiea. Oh ya yang pertama namanya Fathiyya Najla. Sedangkan yang ke tiga he he he 24 agustus lalu istri melahirkan lagi namanya Raizza Nuha.
Sebetulnya, manfaat paling baik dari metode melahirkan dalam air ini adalah bagi bayi. Air yang digunakan adalah air hangat dengan suhu 37oC yang suhunya mirip dengan suhu dalam rahim ibu. Sehingga begitu keluar dari rahim ibu, bayi merasakan keamanan dan kenyamanan seperti dalam rahim ibu, sehingga ia bisa lebih beradaptasi. Setelah dikeluarkan dari dalam air, barulah bayi tersebut menangis. Bayi juga menjadi lebih bersih dari kotoran dan darah.
Seperti yang dikisahkan oleh ibu Liz Adianti yang tercatat sebagai orang yang pertama kali melahirkan di air 4 oktober 2006. Padahal kalo di bali dah banyak yang melahirkan di Air terutama di Yayasan Bumi Sehat Ubud.
Saat itu Ibu Liz tetap merasa mulas dan mengejan seperti layaknya proses melahirkan biasa, namun karena airnya hangat rasa mulas terobati dan saat melahirkan tidak terlalu sakit. Setelah itu, si ibu kembali ke tempat tidur dan diperiksa kalau-kalau ada kerobekan. Proses ini juga melibatkan dokter anak yang memeriksa kondisi si bayi begitu dilahirkan.
Kekhawatiran para calon ibu akan keamanan si bayi saat dilahirkan rasanya tidak perlu mengingat teori di balik melahirkan di air adalah bayi berada di dalam cairan amniotik yang nyaman di rahim selama 9 bulan dan melahirkan dalam lingkungan yang kurang lebih sama dengan di rahim membuat bayi nyaman seolah-olah masih di habitatnya, dan barulah ia menangis saat dikeluarkan dari kolam hangat tersebut.
Sarana persalinan dalam kolam air
Cara persalinan ini membutuhkan sebuah tempat khusus yang memadai, yakni kolam mandi (bathtub) yang besar dan bersih, atau kolam plastik besar, yang bersih dan steril. Air hangat sangat diperlukan untuk membantu proses kelahiran, suhunya diatur sesuai dengan suhu tubuh ibu agar bayinya tidak mengalami renjatan (shock) ketika keluar dan tidak mengalami penurunan suhu yang drastis (hipotermi). Cara ini juga berguna untuk memperkenalkan dunia baru kepada bayi baru lahir (neonatus) dengan lebih baik tanpa membuatnya terkejut.
Tidak semua ibu hamil boleh menjalani cara persalinan dalam kolam air. Hal itu bergantung pada kondisi kehamilannya baik secara jasmani maupun kesiapan mentalnya, dan dukungan suaminya.
Pengaruh dan manfaat persalinan dalam air
Cara ini sangat membantu ibu dalam proses persalinan dan kelahiran, karena membuat lebih santai (relax), nyaman, mengurangi rasa sakit, sirkulasi darah menjadi lebih baik, membuat tubuh lebih ringan, dan memberikan tenaga mengejan yang lebih besar ketika melahirkan. Selain itu, bagi bayi, cara ini dapat mencegah dan mengurangi rudapaksa (trauma) atau cedera kepala bayi.
Dari berbagai sumber


2 komentar:
memang yayasan bumi sehat di Ubud tepatnya ada di mana atuch kang? jadi pengen tau
Ass... Bisa minta alamat yayasan bumi sehatnya?? Biayanya brp ya? Trimakasih..
Posting Komentar